Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

“Reu..” Kata Ande Manuk di Depan Jasad Piter Keraf

Drs. Andreas Duli Manuk menangis dihadapan jasad sang sahabat sekaligus seteru politiknya, Alm. Piter Keraf

Seteru politik, itulah gambaran yang tepat untuk keduanya, Alm. Drs Petrus Boliona Keraf dan Drs. Andreas Duli Manuk. Dua kali keduanya bertarung dalam pemilihan bupati, dan dua kali pula salah satu dari mereka tuai kemenangan.

LEWOLEBA-SATULAMAHOLOT.COM | Usianya tak lagi muda, energinya tak lagi kuat. Bahkan kakinya pun tak lagi kokoh untuk menopang tubuhnya, tak pula sanggup untuk melangkah. Drs. Andreas Duli Manuk, adalah salah satu dari dua tokoh politik senior di Lembata yang paling dikenal rakyatnya. Siang kemarin, Jumat 10/1/2020, ia datang usai Misa Requiem sekaligus pelepasan jenasah sang sahabat, Piter Keraf.

Saat mobil yang membawanya tiba di kediaman almahrum di Kota Baru, Lewoleba, Manuk dipapah turun dan tanpa menggunakan kursi roda, ia gerakkan kakinya, melangkah pelan memasuki area kedukaan. Wajahnya muram dibalik gurat-gurat tua yang mulai memenuhi parasnya. Tak jauh dari jasad sang sahabat, keluarga pun memandang dengan kesedihan yang semakin membuncah. Mendiang suami, ayah, kakek mereka dikunjungi oleh sahabat terdekat sekaligus seteru politiknya.

Abdi Keraf, putera ketiga almahrum langsung menyongsong pria dengan jas hitam itu. Tak jauh dari situ, isteri almahrum Ny. Yashinta Keraf Lay pun berdiri menyambut kedatangan Manuk. Tangisan pecah ketika mantan bupati Lembata dua periode itu menyampaikan dukacitanya.

Sebagai isteri, Shinta tahu dan mengalami langsung bagaimana tensi politik yang dilalui sang suami ketika pria yang datang melayat itu duduk di kursi nomor satu kabupaten itu. Sepuluh tahun, Piter Keraf suaminya tercinta harus menjadi oposan untuk menjaga agar Lembata dibangun dengan baik dan rakyatnya pun diperhatikan oleh pemerintah.

Ia dan suaminya, juga keluarga besarnya, sadar betul akan konsekwensi hidup di Lembata sebagai lawan politik dari penguasa. Namun semua dijalani dengan sukacita, tidak sedikitpun mereka mengeluh. Usaha apa saja yang dapat dikerjakan, mereka lakukan. Bahu membahu dengan anak-anaknya.

Ande Manuk, pria yang belum lama juga ditinggal pergi oleh sahabatnya yang lain, Frans Making itu, kini harus menitikkan kembali air matanya. Kali ini untuk sang seteru politiknya selama kurang lebih 10 tahun.

“Reu, selamat jalan!” ucapnya terbata disela tangisan.

Ia masih berusaha untuk mengucapkan lebih banyak lagi untuk sang sahabat yang terbujur kaku dihadapannya itu. “

“Walaupun kita dua beda, Reu, langit dan bumi, tapi begitu habis, ya habis, Reu,” lanjutnya dengan tangis yang kemudian pecah. Ia tak kuasa menahannya. Air mata jatuh di pipi yang mulai terlihat cekung itu.

Ia pun menyampaikan didepan jasad itu, agar almahrum dari Surga selalu mendoakan ibu, anak-anak yang masih berziarah di dunia ini. Juga ia berpesan agar sahabatnya itu dapat menyiapkan tempat yang damai dan abadi di Surga untuk dirinya teman-teman lain yang akan menyusul ke rumah Tuhan.

Almahrum Piter Keraf dan Ande Manuk adalah dua kekuatan utama politik Lembata diawal 2000 hingga akhir 2000. Tahun 2001, keduanya bersaing dalam pemilihan bupati Lembata melalui DPRD Lembata dimana Ande Manuk berpasangan dengan Felix Kobun (Alm.) unggul dari Piter Keraf yang berpasangan dengan Prof. Dr. Alo Liliweri.

Pada tahun 2006, keduanya kembali bertarung dalam Pilkada langsung. Ande Manuk diusung Partai Golkar, Piter Keraf dari PNBK dan tiga pasang lain. Namun, bandul utama pertarungan ada pada kedua figur ini. Manuk berpasangan dengan Ande Liliweri, sementara Piter Keraf dengan Ferdinandus Diri Amajari atau lebih dikenal dengan Ferdinand Lamak.

Kembali lagi, Manuk sebagai inkumben memenangkan pertarungan ini. Piter Keraf pun harus kembali menduduki kursinya di Ketua DPRD Kabupaten Lembata.

Terhadap beberapa isu pembangunan yang memanas di Lembata ketika itu, Piter pun bersalib pandangan dengan Manuk. Soal rencana tambang di Kedang dan Leragere, Lebatukan. Piter berada di barisan penolakan terhadap rencana itu, sementara Manuk justru aktif mendorong. Hanya pada soal ini, Piter Keraf menang dari Ande Manuk dan akhirnya rencana tambang itu batal hingga hari ini. (Marlo KR/Foto: TribunNews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *