Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Angkat Dua Tangan, Kasih-Kasih Jempol Buat HLF

Remaja-remaja berbakat yang berhasil mengekspresikan kondisi sosial di tengah masyarakat dalam karya musik dan syair. Mereka mendunia, sekalipun mungkin dicibir oleh orang-orang di sekitar tinggal mereka.

Hip-Hop Lembata Foundation dalam Ukur Gutun (Foto: Capture Youtube)

LEWOLEBA – Fenty, wanita kelahiran Bengkulu yang menetap di Amsterdam, Belanda itu mengirimkan pesan melalui whatsapp setelah melihat tanyangan video di whatsapp story-ku. Padahal video itu saya posting beberapa hari yang lewat, dan iseng saja saya lakukan itu lantaran suka sekali dengan musik dan syairnya.

“Hai Fer, keren banget loh video di story whatappmu itu. Apa tuh nama kelompok musiknya, Ukur Gutun ya. Langsung kita pakai lho buat party malam kemaren, semua pada suka tuh,” ungkap Fenty yang sudah 15 tahun menetap di negeri kincir angin itu.

Saya pun tidak berusaha mengoreksi kekeliruannya menyebut nama kelompok musik Hip-Hop Lembata Foundation dengan salah satu judul lagu mereka yang hits sekira pertengahan menuju akhir 2018 silam itu. Biarkanlah orang mengidentikannya dengan karya saja. Tiada beda dengan musisi legendaris Ebiet G. Ade yang sangat dikenal dengan album Camelia-nya, dari 1 sampai 4.

Tidak berapa lama kemudian, teman diskusi saya seputar bisnis global dan pasar modal, Veri Rianghepat atau Viers Abdul Jamal pun memosting di wall-nya, link video Ukur Gutun dan menuliskan apresiasinya bagi karya anak-anak muda ini. “Lagu-lagu dari Indonesia Timur, enak-anak,” tulisnya.

HLF, Lembata HipHop Foundation dalam sebutan orang Lewoleba

Petang tadi (7/4/2020), dunia masih terus berpacu dengan upaya melawan wabah Corona. Lewoleba, kota kecil yang berjarak ……. kilometer dari Wuhan, China tempat pertama virus ini berasal pun tidak ramai seperti hari-hari biasa. Devan, salah satu personil yang kerap tampil sebagai lead vocal dalam beberapa lagu mereka, baru saja tiba di studio mereka di kawasan Beluwa, Lewoleba Barat ketika saya menelepon dan mengajaknya berbicang tentang HLF.

Ia pun berkisah bahwa, ada HLF atau Hip-Hop Lembata Foundation, juga LHC yakni Lembata Hip-Hop Community. LHC adalah rumah besar komunitas pencinta musik hip hop di Lembata, sekalipun dia baru berdiri pada 15 Agustus 2015, 5 tahun setelah terbentuknya HLF.

Nama HLF sendiri diberikan oleh Irsan Young Dad, salah seorang pendiri mereka saat ia masih berada di Malang. Sementara itu, kelompok ini berdiri pada 11 Desember 2010 di Jogja. Nama HLF sendiri terinspirasi dari Jogja Hip-Hop Foundation. Lagu pertama mereka adalah Rindu Lembata dan This Is HLF.

Sebetulnya nama yang betul itu Lembata Hip-Hop Foundation, namun menurut Deval, menjadi Hip Hop Lembata Foundation karena menyesuaikan dengan “lidah orang Lembata.”

“Jadi HLF yang duluan berdiri pada 2010. Saya sendiri meminta bergabung dengan HLF pada 2016, 6 tahun setelah berdiri,” kisahnya.

Rupanya mereka tidak saja bernyanyi. Mereka juga kerap berkumpul dan mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya. Nah, di dalam keseharian mereka menciptakan lagu dan membawakannya, kelompok ini kerap mendapatkan kritikan, sindiran hingga cercaan.

Tantangan ini tidak membuat mereka putus semangat. Justru dalam keadaan demikian, mereka bergeming, tetap berkarya hingga muncul sebuah pamungkas sekaligus menjawab semua pandangan miring itu dalam karya mereka. Ukur Gutun, sebuah lagu yang mereka ciptakan untuk menyindir orang-orang yang selalu sirik dan suka nyinyir itu.

“Ukur gutun itu artinya sifat buruk dari bahasa Atadei Lembata. Lagu ini lahir dari hujatan-hujatan yang acapkali dialamatkan terhadap kami,” ungkap Deval.

Tingkat kepopuleran lagu ini menembus batas negara sebagaimana Fenty dan teman-temannya di Belanda yang saya kemukakan pada bagian awal tulisan ini. Dan per hari ini, kanal youtube mereka sudah mencatatkan lebih dati 5 juta views untuk lagu Ukur Gutun ini.

“Lagu ini saya dengar di salah satu shopping mall di Kuala Lumpur, Aduhhh mama ee, saya dengar tu rasa bangga oww. Haru dan sempat nentes air mata. Kalian keren,” ujar Mathematics Enginerring di kolom komentar di youtube.

Terhadap popularitas mereka yang demikian meluas ini, Deval mengatakan bahwa ada hal yang baik yang mereka dapatkan. Paling tidak, kemana-mana mereka dikenal oleh masyarakat. Tetapi, tidak sedikit juga pengalaman yang tidak enak mereka alami. “Aduh kaka, kadang mereka bilang kami sombong lah, apalagi kalau di media sosial mereka add terus kami lama baru confirm tu pasti siap dapat omelan begitu.”

Dia juga mengakui, sekalipun lagu-lagu mereka sudah mendunia namun pandangan nyiyir terhadap lagu-lagu mereka tak hilang. Ia malah mengatakan, “Lagu-lagu kami justru lebih diterima di luar Lembata,” kata dia.

Apapun itu, kini ditengah situasi pandemik global Coronavirus ini, mereka terus berkarya. Studio utama mereka di kawasan Beluwa, di kediaman Irsan Young Dad menurut Deval adalah hasil dari lagu Ukur Gutun yang begitu banyak viewers-nya di youtube itu. Tetapi mereka juga kerap berkumpul di studio Kepo-One di kawasan Waikomo, Lewoleba Barat.

Irsan Young Dad, Mr. Deval, Narlon on The Beat, Pokar YNS, Ochin, Pascal Wenge, Kevin Banjar, Alfred, Puyol Langkeru, dan masih banyak lagi nama yang mungkin terlewatkan, mereka tetap setia berkarya hingga detik ini.

Dan, April 2020 ini, mereka telah meluncurkan sebuah karya baru yang kini mulai mereka publikasihkan di sini, https://www.youtube.com/watch?v=p5V0Ck-NJbw

Penulis: Ferdinand Lamak / Foto: Capture HLF

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *