Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Corona 01 NTT Itu, Lulusan S2 American University, Washington DC Lho!

Dari caranya berbicara, keputusan yang dia ambil untuk mengumumkan dirinya positif corona saat Pemprov NTT sendiri belum mengumumkan meski sudah lakukan press conference, kemarin malam, menunjukkan bahwa pasien ini bukan orang yang biasa-biasa saja.

Ellyas Asamau saat kuliah di Amerika Serikat (Foto: El Asamau)

JAKARTA – Malam tadi, Kamis 9 April 2020 sekira jam 21.00 Pemprov NTT dalam hal ini Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid 19 NTT mengadakan konferensi pers. Publik bertanya-tanya dan menunggu, siapakah sesungguhnya orang yang dilaporkan oleh pemerintah pusat sebagai 01 positif corona di NTT itu?

Sayangnya, sampai konferensi pers selesai, tidak ada informasi apapun tentang hal tersebut. Yang ada, janji bahwa besok (10/4/2020) gubernur NTT sendiri yang akan memberikan penjelasan terkait hal ini.

Satulamaholot.com mencatat, pada 21 jam yang lalu atau sekira pukul 01.00, Jumat dinihari, akun El Asamau Official di youtube menayangkan video pengakuan sekaligus penjelasan dari pasien yang menyatakan dirinya positif corona itu. Semua dijelaskan dengan begitu lugas hingga nyaris tak ada yang mesti ditanyakan lagi.

Ini bukan langkah yang biasa dalam kondisi darurat seperti ini. Ada pembaca artikel yang diturunkan media ini bahkan berkomentar, orang ini hanya mencari sensasi karena membuat pengakuan sendiri, bukan lewat pemerintah.

Orang luar biasa, tentu melakukan langkah luar biasa! Itu credo yang barangkali bisa menjawab, mengapa El melakukan langkah ini. Dirinyalah yang menjadi sumber utama semua media dalam memberitakan kasus positif corona di NTT itu.

Siapa sesungguhnya El Asamau ini?

Dalam sebuah tulisan yang dia buat pada 24/11/2019, dan didesikasikan untuk ibundanya, Kristina Asamau (54), siapa sesungguhnya orang ini pun terungkap. Orang Alor mungkin mengenal siapa El ini, tetapi tidak untuk yang lainnya.

Ia menuturkan, bahwa sejak kami kecil ibundanya selalu dampingi almarhum ayah berpindah-pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lain, dari satu desa ke desa lain, dan dari satu sawah ke sawah lainnya. Sementara itu dia dan saudara-saudarinya diajak tinggal di sawah, sendiri, disaat para petani yang lain tinggal di perkampungan. Karena itu, ia dan adiknya harus berjalan kaki sejauh 20 km setiap hari untuk pergi bersekolah ke SD terdekat. Teman bermain mereka sehari-hari seusai sekolah adalah lumpur sawah, sambil mencari ikan lele, kepiting dan udang di pinggir sawah. Tidak ada teman bermain.

“Alasan Bapak dan Mama memilih untuk tinggal di sawah adalah agar mereka bisa bekerja lebih lama setiap harinya. Tekad Mama dan Bapak saat itu hanya satu, anak-anaknya harus tetap sekolah dan bisa tamat SMA agar bisa bekerja di kantor desa sebagai perangkat desa. Mama dan Bapak juga sempat beralih dengan menanam cabai karena hasil padi tidak begitu bagus,” demikian tulis El.

Saat lulus SMA, El didaftarkan pada seleksi calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Ia dibelikan tiket ke Kupang untuk ikut seleksi, padahal dia tahu saat itu kedua orangtuanya tidak punya uang. Berkat dukungan serta doa dari Mama dan Bapak, ia pun lolos seleksi dan bisa menimba ilmu di IPDN.

Saat El lulus dari IPDN, ayahnya mulai jatuh sakit. Ibunya pun harus menutup kebutuhan dengan berjualan ikan asin antar pulau menggunakan kapal laut, hingga Pulau Sumba.

Sampailah dimana ia dan keluarganya harus fokus untuk merawat sang ayah yang semakin lemah. Saat yang sama, El sendiri sedang mendaftar beasiswa Affirmasi LPDP, dan dinyatakan lulus untuk ikut pelatihan Bahasa Inggris di Bandung. El dilema, apakah harus melanjutkan kuliah dengan beasiswa ini atau mengundurkan diri agar bisa bersama-sama ibunya merawat ayah tercinta.

“Apalagi, saat itu adik saya juga dalam keadaan sakit stress berat. Jika saya tinggalkan, saya yakin Mama pasti tidak mampu mengurus mereka sendiri. Saya sampaikan ke Mama bahwa saya tidak ingin kuliah dulu. Tapi Mama menangis karena Mama dan Bapak berjuang selama ini agar kami bisa bersekolah. “Jangan pikirkan Mama, karena Mama akan tetap berdoa untukmu”, kata Mama. Saya tahu, saat itu Mama membutuhkan kehadiran saya. Tapi dia memilih untuk menghadapi sendirian. Akhirnya sayapun berangkat persiapan kuliah S2, walaupun akhirnya bapak tidak tertolong dan dipanggil Tuhan.”

Atas doa ibundanya, El berhasil menyelesaikan S2 Kebijakan Publik di American University, Washington DC, Amerika Serikat tepat waktu. Ia pun langsung kembali ke Alor untuk mengabdi. Hanya, banyak sekali pertanyaan dari teman-temannya:

“El, kenapa tidak pindah ke Jakarta saja? Masa lulusan Amerika kerjanya di Kabupaten? Bilang, kapan mau pindah biar saya bantu” atau “El, kenapa tidak tinggal di Amerika saja? Bagus tuh buat pendidikan anak-anakmu” atau “Adik, kamu tidak cocok berkarir di daerah. Kamu lebih bagus berkarir di Pusat”.

El mengatakan, dalam hati ia hanya bisa tersenyum, karena saat itu ia hanya ingin mewujudkan cita-citai bunya, kalau ibunya juga ingin sekolah hingga tamat SMA. Cita-cita yang ibunya biasa sebutkan walau secara tersirat.

“Saya bahkan berencana untuk mendorong agar Mama bisa sampai mengeyam bangku kuliah walaupun usianya tidak muda lagi. Untuk mewujudkan ini, saya pun mendirikan Sekolah Pendidikan Non Formal bernama Yayasan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Alorinda di Alor, sehingga Mama bisa belajar dan mengejar ketertinggalan melalui Program Kesetaraan Paket B,” kata El.

Karena ibundanya, melalui Yayasan ini El dan teman-temannya mampu menjangkau dan melayani orang-orang yang putus sekolah seperti ibunya. “Kami juga bisa bekerja sama dengan Lapas Kalabahi untuk program kesetaraan bagi warga binaan. Kami juga membuka Kursus Bahasa Inggris bagi Anak-anak Alor yang bermimpi melanjutkan Pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kami juga membuka kelas-kelas persiapan daftar beasiswa. Semoga cita-cita Mama dan orang-orang seperti Mama tercapai. Amin.”

Diambil dari tulisan Elyas Y. Asamau, S.IP, MPP
(Putra Kedua Mama Kristina Asamau) – www.pkbmalorinda.weebly.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *