Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Editorial: Lembata – Flotim, Berkacalah pada Sikka

Setelah karantina, pasien akan dipulangkan ke desanya masing-masing. Di Maumere, 19 orang tidak bisa dipulangkan bersama-sama dengan 154 eks penumpang KM Lambelu lainnya. Pelajaran ini sepatutnya diambil oleh Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Covid 19 Flotim dan Lembata.

Pemulangan warga eks karantina di Maumere (Foto: TribunNews.com)

Dalam catatan media ini, dari beberapa peristiwa yang sudah terjadi, pemerintah kita cenderung menerapkan filosofi ‘memadamkan api’ daripada ‘mencegah kebakaran.’ Maksudnya, prinsip proyeksi terhadap sebuah peristiwa, untuk menghasilkan langkah antisipasi, jarang sekali terlihat. Alih-alih kondisi darurat seperti saat ini, pada kondisi normal saja prinsip ‘mencegah kebakaran’ jarang sekali terlihat. Semuanya berlangsung dalam sebuah pola linear, apalagi jika itu berkaitan dengan hal-hal yang sudah sering dilakukan. Alhasil, dalam kondisi darurat pun, sense of urgency-nya kurang nampak.

Salah satu contoh, begitu tertutupnya informasi tentang penanganan pelaku perjalanan yang sedang dikarantina sejak 14 hari silam di Larantuka. Sebuah media online mengabarkan, 17 orang itu sejak 21 April malam, sudah dipindahkan ke lokasi milik frater-frater BHK di Emaus, Weri. Hal yang mestinya sebelum pemindahan itu, juru bicara GTPP Covid 19 Kabupaten Flores Timur yakni Dokter Oggie Silimalar, sudah memberikan keterangan, mengapa mereka dipindahkan, padahal mereka sudah mencapai batas waktu karantina 14 hari, sejak turun dari kapal. Setelah itu, baru mereka dipindahkan ke lokasi baru sehingga tidak menyisakan pertanyaan di benak publik.

Terlepas dari apapun kesibukan ia sebagai Kepala Dinas Kesehatan Flores Timur, tetapi dalam kondisi begini ia harus menjalankan tugasnya sebagai juru bicara yang komunikatif terhadap publik, baik langsung maupun melalui media. Jika tidak, apa fungsinya ia sebagai juru bicara?

Pengalaman penolakan lokasi karantina di Likutuden maupun di Sarotari untuk Flores Timur dan di Puskesmas Pada untuk Lembata yang pernah terjadi beberapa waktu lalu adalah, bukti pemerintah kita bergerak dengan filosofi ‘memadamkan api.’ Bayangkan jika sejak awal, sejak mengetahui bahwa ada sejumlah penumpang KM Lambelu yang harus dievakuasi dan dikarantina, beberapa hari sebelumnya pemerintah sudah membicarakan dengan warga sekitar, maka, tidak akan terjadi kisruh seperti kemarin. Pemerintah tergopoh-gopoh untuk mencari lokasi alternatif, yang juga berhadapan dengan penolakan warga sekitar.

Mengapa dikatakan bahwa, sesungguhnya jika Pemda melakukan komunikasi dan pendekatan yang baik sejak awal, memberikan gambaran yang komprehensif kepada warga, maka tidak akan terjadi penolakan? Karena, toh pada akhirnya setelah dilakukan pendekatan dan dijelaskan dengan segala tarik menarik kepentingan didalamnya, pada akhirnya warga menerima juga kan? Sekalipun dengan sejumlah catatan. Sama juga dengan di Lembata, pada akhirnya warga menerima juga lokasi di Pada menjadi tempat karantina kan?

Nah, hari ini publik menyaksikan bagaimana peristiwa di Maumere yang menimpa 19 orang eks penumpang KM Lambelu yang belum diperbolehkan pulang. Mengapa? Karena pemerintah kecamatan masih harus berkomunikasi dan berkoordinasi dulu dengan kepala desanya masing-masing. Ada apa sebetulnya? Meski tidak dijelaskan secara gamblang, namun tentunya ini berkaitan dengan kesiapan masyarakat desa menerima mereka.

Nah, bagaimana dengan Flotim dan Lembata yang sebentar lagi mungkin akan mengembalikan para penghuni lokasi karantina ke rumah mereka masing-masing, apakah kemungkinan terburuk seperti ini sudah diperhitungkan? Sudahkah pemerintah melakukan edukasi dan prakondisi di desa asal masing-masing mereka agat ketika mereka kembali ke rumah tidak mendapatkan penolakan dari masyarakat?

Atau, masih mau menggunakan prinsip memadamkan api lagi? Tunggu sampai ada penolakan dulu, baru tergopoh-gopoh untuk turun menyelesaikan persoalan? Walahuallam.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa untuk sesama saudara yang merayakannya.

Redaksi Satulamaholot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *