Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Mental Enak dan Aksi Minta-Minta Mahasiswa

Sebuah akun di facebook dengan nama Niko Tokan pada 21 April 2020 membuat postingan yang ia sebut sebagai seruan mental untuk teman-teman mahasiswa yang suka mengeluh dan melakukan aksi ‘minta-minta’ bantuan ke pemerintah lewat media sosial. Postingan itu dia beri judul, Membunuh “mental enak” mahasiswa di tengah bencana Corona.

Solidaritas untuk mahasiswa perantau asal Flores Timur di Jabodetabek (Foto: HH)

Ia mengatakan, seharusnya teman-teman mahasiswa, harus lebih kreatif dan inovatif untuk memaksimalkan potensi dan kemampuan dalam kemandirian berusaha. Menurut dia, harga 1 masker dari bahan-bahan sederhana, berkisar antara 50.000-10.000, per buah. Seandainya aksi stay at home teman-teman mahasiswa, dimanfaatkan dengan maksimal untuk menjahit masker sederhana, minimal 1 hari berhasil menjahit 10 masker saja, maka dalam sehari, teman-teman sudah mendapatkan uang
makan di kos berkisar Rp 50.000-100.000.

Nah, masyarakat di kabupaten-kabupaten di NTT, hari ini sedang “mengeluh” kekurangan masker. Dan Pemda kabupaten akan dengan senang hati membeli masker hasil kreatifitas teman-teman muda mahasiswa. Semua saling mendukung dan bekerja sama
untuk perangi Pendemi…

“Tanpa teman-teman terus mengeluh dan meminta atau harus menunggu negara turun kasih bantuan. Pemda dan masyarakat terbantukan oleh hasil kreativitas teman-teman muda mahasiswa dalam menjahit masker tuk masyarakat. Teman mahasiswa terbantu dengan uang saku dan kebutuhan sehari-hari di tengah wabah Corona, hanya dengan memaksimalkan potensi dan kreativitas dalam diri.”

——————————————————————————————————————–

Postingan ini bagus. Tentu saja, apa yang diposting adalah pendapat pribadi yang akan mendapatkan respons dari siapa saja yang membacanya. Memotivasi mahasiswa untuk kreatif dari kost adalah sesuatu yang positif, selama motivasi tersebut tidak mengabaikan juga realitas yang ada dikalangan mereka pada masa ini.

Respon beragam, pro dan kontra pun berdatangan. Ada yang mendukung bahkan menimpali dengan tudingan seperti akun Agel Riantobi yang mengatakan, “Mahasiswa yang hidup di era seperti ini banyak manjanya maunya dikunya tinggal ditelan. Tidak kreatif sekali.”

Sementara ada juga akun lain yang membantah imbauan diatas dengan mempertanyakan, mahasiswa mana yang hanya tinggal dan tidur di kost pada era pandemi ini.

Akun Tika Mustika relatif lebih bijak menanggapi dengan komentar berikut ini, “Adek-adek mahasiswa Flores di Jawa tentu tidak berbekal mesin jahit, mereka cukup lelah dengan banyaknya tugas kerja. Warung makan murah sudah dibatasi mungkin di sekitar kos sudah tutup semua. Sementara pilihan mereka untuk tetap bertahan di kos dan tidak mudik sudah bisa dapat acungan jempol. Karena ikut memutus rantai Covid19. Entah kiriman dari orang tua lancar atau tersendat, yang jelas gak bisa ke mana-mana putar otak untuk tetap makan sehat dan jaga stamina. Dimasa pandemi (maaf) sebaiknya bergandeng tangan mengulurkan apa yang kita bisa bantu.”

Media sosial memang membuat setiap orang bebas memberikan imbauan atau apapun komentar. Apapun itu, yang membatasi hanyalah respons dari pihak lain. Demikian juga dengan postingan diatas.

Sayangnya, perspektif pemosting kadang-kadang alpa terhadap beberapa variabel yang menjadi prasyarat usulan atau motivasi itu dapat diterima.

  1. Vonis dan generalisasi. Berkali-kali pemosting merespon komentar dengan mengatakan bahwa postingan ini adalah pendapat pribadi. Sebuah bentuk disclaimer yang sesungguhnya tidak berarti apa-apa, karena konten dari postingan sudah menggiring opini dari pembaca. Ini dapat dibuktikan dari komentar-komentar yang ada pasa postingan itu. Mahasiswa divonis melakukan aksi minta-minta di media sosial dan mental enak adalah pendapat pribadi. Mahasiswa dalam makna yang general, tidak spesifik. Ini kecenderungan yang kerap kita jumpai di media sosial, memberi motivasi tapi sinis, nyinyir bahkan stigma dengan vonis yang lebih besar bobot apriorinya. Akankah motivasi itu diterima?
  2. Mahasiswa mana yang tidak beraktifitas di kediamannya masing-masing pada saat ini? Kalender akademik mahasiswa saat ini bukan liburan. Bagi mahasiswa di kota-kota besar seperti Denpasar, Surabaya, Jakarta, Bandung, Makassar, mereka dirumahkan dengan aktifitas perkuliahan dilakukan secara online. Aktifitas ini hanya mengurangi biaya transportasi ke kampus, tetapi menambah biaya untuk kebutuhan lain yang harus dipenuhi dengan uang tunai. Jadi mereka tidak diam, dan bersantai-santai di kost atau kontrakan dan merengek-rengek ke pemerintah untuk meminta bantuan.
  3. Kemampuan dalam kemandirian berusaha. Kalimat ini, barangkali lebih tepat disematkan pada para wirausahawan yang sudah dan sedang berusaha karena konteksnya lebih tepat bagi kelompok tersebut. Mahasiswa adalah kelompok intekektual, yang mungkin memiliki jiwa entrepreneurship – tetapi bukan itu fokus mereka.
  4. Kalaupun mahasiswa mengisi waktu senggang mereka dengan menjahit masker, pertanyaanya, apakah mereka memiliki peralatan mesin jahit untuk bisa memproduksi masker dari kain bekas? Masker dari kain bekas itu apakah bisa dijual? Jika tak ada mesin dan harus menjahit dengan jarum tangan, apakah masker itu bisa dijual?Apakah mereka memiliki modal untuk beli kain, jika kebetulan mereka punya mesin jahit? Apakah mereka memiliki uang untuk menyewa penjahit jika mereka tidak punya mesin?
  5. Jika mahasiswa itu kuliah di kota-kota seperti Jakarta dan Surabaya atau kota-kota besar lainnya, apakah imbauan diatas berlaku juga? Atau imbauan diatas hanya diberikan untuk mahasiswa di Kota Larantuka saja?
  6. Pernahkah terpikir bahwa tidak semua mahasiswa perantau adalah anak dari ASN atau pengusaha? Banyak diantara mereka yang dbiayai dari penghasilan harian orang tua mereka. Tidak sedikit juga yang mengharapkan kiriman uang dari orang tua dan kerabat mereka yang bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sumber keuangan mereka saat ini sekarat karena wabah ini.

——————————————————————————————————————–

Harian Kompas 7 April 2020 menurunkan laporan litbangnya dengan judul: Nasib Mahasiswa Perantau di Tengah Wabah Korona yang dari awal hingga akhir tulisan itu, media ini pun tidak dapat membuat pemetaan, berapa banyak mahasiswa perantau yang ada di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan lain-lain. Mengapa?

Jawabannya, karena pemerintah-pemerintah dari daerah seperti Flores Timur atau NTT saja tidak memiliki data tersebut. Andai semua kabupaten memiliki data mahasiswanya yang bersekolah di semua kota, maka dengan mudah kota-kota destinasi para mahasiswa ini melakukan pendataan.

Untuk Jakarta saja, data mahasiswa Flores Timur yang paling komplit saat ini ada pada kelompok AMA Jakarta.

Maka kembali ke motivasi diatas, rasanya naif jika imbauan yang diberikan, ketika dicerna dan dikaitkan dengan realitas di lapangan, mayoritas variabelnya tidak nyambung yang pada akhirnya tidak dapat dipraktikkan sama sekali.

Sebagai sebuah pelatuk diskusi hingga memancing isteri orang nomor satu di Kabupaten Flores Timur untuk terpancing dan ikut berkomentar, postingan ini patut diacungi jempol. Pada akhirnya, posisi pemerintah terhadap para mahasiswa asal daerah ini dalam menghadapi wabah di tempat kuliahnya masing-masing, dapat diproyeksikan dari komentar yang ada di dalam postingan ini.

Bagi setiap gerakan yang dilakukan dengan tujuan mulia, teruslah bergerak. Bantuan paket sembako yang diberikan kepada mahasiswa dalam kondisi pandemik ini pasti sangat membantu anak-adik mahasiswa perantau. Pasti!

Redaksi SatuLamaholot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *