Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Contoh Buruk Politisi, Ketika Bagikan Masker

MASKER! Barang satu ini jadi sangat langka, tidak saja di Flores Timur dan Lembata, tetapi juga di seluruh Indonesia, terutama dalam kurun waktu sebulan lalu. Saat ini mungkin sudah mulai teratasi dan relatif mudah diperoleh lantaran sudah mulai banyak orang yang memproduksinya.

Contoh yang baik dan contoh yang buruk dalam hal menggunakan masker pada masa pandemik (Foto: dari berbagai sumber)

Media ini mencatat, dalam awal-awal bulan ini, sejumlah postingan muncul di media sosial dengan mengatakan pernyataan sinis terhadap para politisi. Mereka membandingkan kondisi saat ini dengan masa-masa kampanye, setahun silam.

Setahun silam, topi, kaos, sticker para polisi bertebaran, juga sumbangan mulai dari semen, anak babi, hingga sembako dan tak jarang uang tunai, mereka terima. Namun dalam kondisi ini, selembar masker pun tak ada yang ada satupun politisi yang datang membagikan itu.

Memang, kesehatan itu urusan masing-masing pribadi. Demikian pun tindakan preventif, itu tanggungjawab dan kesadaran masing-masing. Maka menjadi benar apa yang dikatakan Ibu Lusia Gege Hadjon yang juga adalah isteri bupati Flores Timur itu, bahwa jika menyadari bahwa kesehatan itu penting, dan masker itu penting, ya masyarakat bisa membelinya sendiri, jangan tunggu bantuan.

Awal bulan ini, Komunitas Satu Lamaholot Jakarta dan sejumlah komunitas lain di Larantuka seperti Simpa Sio Institute dan Komunitas Taman Daun di Lewoleba, sudah melakukan kegiatan pembagian masker gratis. Ini bentuk solidaritas spontan dari kelompok masyarakat untuk warga masyarakat yang sulit mengakses alat pelindung kesehatan ini. Mereka membagikan masker tanpa menunjukkan wajah mereka yang tertutup dibalik kain masker itu.

Bahkan Komunitas Satu Lamaholot justru sama-sekali tidak menampakkan wajah pembaginya, kecuali selembar kertas dengan tulisan tangan sebagai bukti bahwa bantuan sudah tiba di tangan mereka yang membutuhkan.

Belakangan ini, hari-hari terakhir ini, halaman media sosial banyak dipenuhi oleh foto-foto penyerahan bantuan masker gratis yang dilakukan oleh politisi kepada warga masyarakat dan unit-unit pelayanan kesehatan, terutama dari mereka para anggota DPRD Kabupaten Flores Timur.

Yang unik dari foto-foto ini, mereka menyerahkan bantuan kepada sejumlah orang yang sudah mengenakan masker, dengan jarak yang begitu dekat, tetapi masker yang bergelantungan di lehernya, tidak digunakan untuk menutup wajahnya.

Mungkin bagi sebagian masyarakat, ini hal yang biasa saja, namun dari aspek edukasi untuk menjaga kesehatan ditegah wabah Covid 19 ini, sebagaimana protokol kesehatan yang diinstruksikan dari pusat, tindakan seperti ini sama sekali tidak mendidik. sulit untuk dimengerti, bagaimana seorang wakil rakyat tampil dengan perilaku yang sangat tidak mendidik.

Tentu, bagi masyarakat yang paham, perilaku begini justru patut dikecam. Karena ini sudah masuk dalam kategori, politisasi bencana. Mengapa masker tersebut tidak dikenakan? Ya, supaya tampak pada foto, wajah-wajah mereka. Agar masyarakat tahu, siapa sesungguhnya politisi bbaik hati yang sudah berbaik hati membagikan masker itu. Ujung-ujungnya elektabilitas kan?

Ini contoh yang buruk. Buruk sekali dan jangan pernah diulangi.

Media ini mencatat, bagaimana contoh yang ditunjukkan oleh Lusia Gege Hadjon, ketika membagikan masker kepada para penjual di pasar, beberapa waktu silam. Ia mengenakan masker, turun ke pasar menghampiri mama-mama penjual yang tidak punya masker, mengajak mereka berbincang dan berpesan kepada mereka agar menjaga kebersihan, cuci tangan dengan sabun agar terhindar dari penyakit ini.

Ia adalah isteri dari bupati yang sedang menjabat dan jika ia hendak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang isteri bupati, mengapa masker tetap menutup wajahnya? Bukankan jika orang melihat wajahnya, mengenalinya muncul di tengah-tengah pasar dan terkaget-kaget melihat wajahnya, citra sang bupati pun akan terdongkrak naik ditengah sorotan yang demikian tajam dari publik di media sosial terhadap kepemimpinan saat ini?

Cukup sudah! Aksi pamer kebaikan untuk mendulang benefit politik terutama dari para wakil rakyat. Jauh lebih terhormat jika Anda turun ke masyarakat dengan mematuhi protokol kesehatan, sekalipun masker yang Anda bawakan untuk mereka pun tidak seberapa banyak dibadingkan jumlah masker yang bisa Anda belikan dengan separuh dari gaji dan tunjanganmu.

Berpolitiklah dengan lebih bermartabat. Contohlah kelompok masyarakat seperti Simpasio Institute, Komunitas Taman Daun di Lembata dan Komunitas Satu Lamaholot Jakarta. Jika ada sosok yang dapat dijadikan teladan dalam membantu dan menolong masyarakat, tanpa perlu pamer tampangnya, maka jadikanlah Ibu Lusia Gege Hadjon sebagai contoh yang patut ditiru.

Wasallam.

Redaksi Satulamaholot.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *