Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Monumen Kasih untuk Sang Guru (Mengenang Valens Fernandez)

Alm. Valens Fernandez bersama keluarga (Foto: Facebook Frans Roi Lewar)

Oleh: Viktus Murin
Alumnus SMP Katolik Mater Inviolata Larantuka tahun 1985, kini Tenaga Ahli Ketua MPR RI

Terbalut oleh rasa sedih nan dalam, namun dengan berkalungkan rasa hormat yang sangat kepadamu, wahai guruku, kutuliskan catatan kecil ini sebagai monumen kasih untuk jasa-jasamu. “Kenangan itu suatu bentuk pertemuan juga”, tutur Kahlil Gibran, pujangga humanis dari Lebanon yang telah lama kujadikan sebagai “guru batin”.

Valentinus Fransiskus D. Fernandez. Populer dengan nama ringkas, Valens Fernandez! Secara pribadi saya menyapanya dengan Guru Valens, lebih-lebih selepas tamat dari bangku sekolah, SMP Katolik Mater Inviolata Larantuka. Sekolah ini diasuh kaum biarawati Kongregasi SSpS. Begitupun tiap kali berkisah dengan teman-teman semasa SMP, saya lebih sering menyebut nama mendiang dengan Guru Valens.

Sengaja saya menyapanya dengan “Guru” Valens, kendati kami tidak lagi berada dalam domain relasional antar guru-murid di lingkungan sekolah formal. Entah kenapa, bila menyapa dengan sebutan “Pak” Valens, terasa ada sekat formal yang membatasi relasi sosial kami. Menyapanya dengan sebutan “guru”, membuatku selalu merasa respek kepadanya. Amat subjektif memang, tetapi begitulah, bukankah subjektivitas selalu bertautan rapat dengan nuansa rasa di relung batin?

Pada suatu waktu, di antara termin masa 1982-1985, tatkala Guru Valens mengasuh les olahraga, ada sekeping kisah “unik dan lucu”. Kami, yang saat itu masih berkategori remaja tanggung, sepertinya sedang terserang sindrom “kera”, atau kenakalan remaja. Kami segelintir murid laki-laki yang dicap agak nakal. Sehari sebelum jadual les olahraganya Guru Valens, kami nekat mencuri kesempatan untuk ‘coba-coba’ merokok. Aksi tak terpuji itu kemudian diketahui oleh Guru Valens. Sangat mungkin, ada ‘oknum’ murid perempuan yang melapor ke beliau setelah memergoki kami merokok.

Keesokan harinya, saat beranjak ke jam les olahraga, Guru Valens dengan wajahnya yang memang kalem dan tenang, mengajak dan mengumpulkan kami di halaman belakang kelas yang menjadi area praktek les olahraga. Begitu kami telah bersiap-siap memulai praktek olahraga, tiba-tiba beliau memanggil beberapa nama di antara kami (seiingat saya, ada empat atau lima orang). Kami diminta berdiri secara terpisah dari kumpulan murid lainnya. Sesaat kemudian, Guru Valens menatap dengan sorot matanya yang tajam ke arah kami, namun garis-garis wajahnya tetap terlihat tenang.

Dalam posisi sudah menjadi ‘tersangka’, kami makin gugup lantaran mendengar suaranya meninggi, tapi tegas dan berwibawa. Beliau mengajukan pertanyaan pendek, kira-kira begini; “Apa benar kalian merokok?” Antara grogi bercampur rasa takut berbuat ‘dosa’ lagi, kami serta-merta mengakui perbuatan kami. Sebagaimana guru yang berkarakter humanis, Guru Valens tidak menghukum kami dengan pukulan kayu atau rotan ke tubuh. Dia memilih cara yang lebih halus, yakni memberi ‘therapi efek jera’. Diambilnya dua atau tiga batang rokok, yang sepertinya telah disiapkan di balik kantong bajunya. Rokok itu dipatah-patah untuk memisahkan tembakau dari lintingan rokok. Dia mengambil masing-masing sedikit tembakau, dan menyuruh kami mengunyah tembakau itu. Namun, dengan memperingatkan agar tembakau itu jangan sampai tertelan!

Sekejap saja therapi efek jera itu berlangsung, sebelum kami diperintahkan memuntahkan kembali tembakau dari dalam mulut. Dengan nada mengayomi beliau bertanya; “Apakah enak rasa tembakau di dalam mulut?” Serta-merta kami menjawab; “Tidak enak”, sembari menggaruk-garuk kepala pertanda kian gugup. “Masih mau coba-coba merokok?” tanyanya lagi. ”Tidak lagi”, kira-kira begitu tanya-jawab singkat di antara kami. Lalu, beliau pun meminta kami bergabung kembali ke kelompok mayoritas murid yang tidak merokok, untuk bersama-sama memulai kegiatan olahraga. Semenjak peristiwa therapi efek jera itu, kami pun kapok, tidak lagi merokok sampai kami menamatkan sekolah.

Selama mengabdi di SMP Mater, Guru Valens tidak hanya mengasuh les olahraga. Beliau juga dengan tekun membimbing siswa-siswi dalam hal kegiatan ekstra-kurikuler; latihan bermusik, latihan vocal group, dan lain sebagainya. Selain hadir sebagai seorang guru, beliau juga setia dan ikhlas menjadi mentor dan atau supervisor dalam rangka pengembangan talenta-telenta murid. Sikap kalem dan pembawaanya yang tenang adalah refleksi dari kepribadiannya yang humanis. Sejauh yang terekam dalam ingatan kolektif banyak orang, Guru Valens adalah sejawat yang baik bagi para kolega gurunya, pendidik yang bijaksana bagi para muridnya, dan pengayom yang sejuk bagi keluarga dan orang-orang yang dikenal dan mengenalnya.

Setamat dari SMP Mater, jarang kami bertemu kendati masih berdomisili di dalam satu kota yakni di “Nagi”, sebutan khas untuk kota Larantuka, ibukota Kabupaten Flores Timur. Kendati begitu, kami murid-murid Guru Valens, hafal betul kapan beliau dan kru Band Diana berlatih di markas besar mereka di Lokea, atau saat Band Diana diundang tampil manggung di tempat umum. Di momen seperti itulah kami hadir mengobati kerinduan kami, menyaksikan kepiawaian beliau memetik senar gitar dan menikmati suaranya yang merdu dan khas saat bernyanyi. Beliau gembira saat tahu kalau kami ikut menyaksikannya latihan atau manggung bersama Band Diana. Dengan ramah beliau selalu menyapa, sering juga melempar guyonan. Namun, lantaran rasa segan kami kepadanya, terkadang kami masih menggaruk-garuk kepala saat menjawab guyonan atau pertanyaan ringan dari beliau.
*

Guru Valens. Lelaki berpenampilan flamboyan yang sarat talenta; pendidik yang bijaksana, pemusik yang menguasai semua alat musik, biduan bersuara merdu-mendayu, pegiat aktivitas musik di gereja, seniman sepakbola lapangan hijau yang identik dengan kejayaan Perseftim (Persatuan Sepakbola Flores Timur) di era dulu, olahragawan dengan penguasaan skill lintas-cabor (cabang olahraga), senior yang berpihak pada eksistensi dan harapan anak-anak muda Larantuka, pun pengayom bagi keluarga serta orang-orang yang mengenalnya dan dikenalnya.

Pemerhati sejarah kota Larantuka, Fransiskus Roi Lewar, pada akun pribadinya di laman Facebook, Sabtu 13 Juni 2020, menulis catatan “In Memoriam”, beberapa saat setelah Guru Valens tutup usia di RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka, Sabtu pagi. Mengenai lelaki kelahiran 30 Agustus 1952 itu, Roi Lewar menulis antara lain, sebagai berikut: “……Sejak memperkuat Perseftim tahun 1974 di El Tari Cup Maumere, beliau selalu menjadi back tangguh, palang pintu pertahanan Perseftim. Gaya bermain bolanya adalah gabungan skill yang tinggi dan seni memainkan bola yang begitu indah. Hal tersebut membuat dia begitu dikenal oleh pecinta sepak bola Flotim dan NTT. Tidak hanya mewakil Perseftim, tapi juga mewakili NTT saat melawan tim tamu dari luar daerah. Bagaimana dia memenangkan duel satu lawan satu ketika berhadapan dengan Hanafing pemain Timnas, saat pertandingan Perseftim vs Makasar Utama di Maumere tahun 1980-an. Keinginannya untuk berkarir dalam dunia sepakbola di Jakarta sejak tahun 1970-an, yang sudah ditawarkan oleh Om Sinyo Aliandoe, dia lupakan untuk tetap mengabdi bagi Lewotana Flores Timur.

Kalau di lapangan kelihatan beringas, tetapi begitu mengontrol bola, dia memukau dengan skill bola level tinggi. Pengetahuan tentang sepakbola secara teori dan praktek diperolehnya semasa menjadi siswa SMOA, yang kemudian berganti nama menjadi SGO Kupang. Selain sepak bola, semua cabang olahraga dikuasainya dengan sangat baik. Valens adalah pemain Voley yang terkenal dengan smash kencang dan teknik tipuan bola yang nyaris sempurna. Dia menguasai teknik bantingan dalam Judo dengan sangat baik. Selain sepak bola dan volley, suami dari Oa Dona Buce DVG ini juga memiliki teknik yang sangat baik saat bermain basket, badminton, dan tenis meja. Bagaimana dia bgitu indah memainkan bola secara akrobatik di ujung jarinya. Valens juga sempurna ketika melakukan gerakan senam matras. Ketika berhadapan dalam olahraga otak seperti catur, ayah dari tiga orang putra dan dua orang putri ini sangat lihai.

Posturnya yang tinggi, berambut gondrong, dengan badan yang atletis, membuat ia dengan mudah dikenali. Wajahnya bisa jadi membekas dalam ingatan semua anak muda Flores Timur tahun 70-an hingga tahun 2000-an. Di balik wajahnya yang dingin dengan tatapan yang tajam, beliau memiliki sentuhan seni yang tinggi. Selain memiliki bakat bermain hampir semua alat musik, Valens Fernandez pun dapat melukis dengan baik. Meski bisa melukis, namun Valens Fernandez lebih dikenal publik sebagai penyanyi dan pemain musik.

Jika bernyanyi maka dia begitu menghayati lagu. Apalagi lagi slow rock dan lagu-lagu sendu dengan irama pelan yang mendayu. Valens Fernandez yang garang di lapangan bola berubah menjadi sosok yang begitu sentimentil saat melantunkan lagu tersebut. Suara bariton dengan pengambilan nada-nada tinggi, mengingatkan pecinta musik pada warna suara vokalis Black Brothes, Marthy Messer, yang nyaris sempurna membawakan salah satu nomor hit Layu di Ujung Senja. Dia musisi yang luar biasa”. Demikian kutipan catatan Roi Lewar yang juga murid dari Guru Valens di SMP Mater.
*

Guru Valens kini telah pergi jauh, dan tidak akan kembali. Ia telah menghadap TUHAN Sang Pencipta yang telah memberi dirinya banyak talenta. Pribadi humanis yang semasa hidupnya mengasihi dan dikasihi banyak orang itu, sangat mungkin kini jiwanya sedang bersorak-sorai memadahkan kemuliaan TUHAN. Jiwanya bersukacita, karena ia telah menunaikan pesan Kitab Suci, dari 2 Timotius 4:7, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Guru Valens. Sang biduan pelantun lagu “O Mermoce”, lagu nan indah berbahasa Nagi Melayu Larantuka. Di masa dulu, tatkala mendengarkan irama dan syair lagu Mermoce, hati pun riang. Kini, saat “menyimak” ulang lagu ini, serta merta hati pun dihinggapi rasa sesak yang sangat. Ini cuplikan syair lagu yang indah itu: “O Mermoce…/Tega apa jadi begini/Engko so pi jao/Lepa kita sini…” (O Mermoce…/Mengapa mesti terjadi begini/Engkau telah pergi jauh/Tinggalkan aku di sini…).

Demi mengenangkan kebaikanmu, Guru Valens, izinkanlah kuubah sedikit petikan syair lagu yang teramat populer di tanah Nagi, bumi Lamaholot Flores Timur, bahkan ke seantero NTT itu, menjadi: “O Guru Valens…/Tega apa jadi begini/Engko so pi jao/Lepa torang semua…” (O Guru Valens/Mengapa mesti terjadi begini/Engkau telah pergi jauh/Tinggalkan kami semua…).

Mengenang jasamu, wahai guruku, mekarlah rasa syukurku. Kendati begitu, terbersit pula sejumput penyesalan, sebab niat bersilaturahmi denganmu di Nagi belum lama ini, telah alpa kutunaikan. “Ketika kubuka buku kenangan kemarin, tahulah aku bahwa aku masih berhutang banyak pada kehidupan”, ucap sang guru batinku Kahlil Gibran. TUHAN baik, sungguh baik, dan selalu baik. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *