Tuesday, December 7SATULAMAHOLOT.COM

Rumah Nenek Peni di Kalikasa, Dipoles Komunitas Taman Daun

Penampakan rumah Nenek Peni setelah dibedah (Foto: John)

Komunitas Taman Daun Lembata semakin bersinar menabur kasih pedulinya kepada mereka yang tak berdaya dan tersingkirkan dan/atau tersentuh oleh berbagai kebijakan pembangunan di aras lokal.

SATULAMAHOLOT.COM| Komunitas Taman Daun yang diawaki John Batafor ini, patut diapresiasi publik Lembata yang selalu mendengungkan spirit Taan Tou. Betapa tidak, sejak dunia terpapar Covid19, komunitas ini langsung dengan sigap merespon dukungan kepada warga Lembata sebelum para pihak terkejut.

Respon Taman Daun yang digelar di awal pandemi dalam bentuk, membagi wadah pencuci tangan yang jumlahnya sudah ribuan berikut masker dan sejenisnya. Boleh dicek kepada warga yang telah menerima uluran tangan kasih dari Taman Daun sejak awal pandemi Covid19.

Komunitas Taman Daun tidak berhenti di situ. Konsolidasi sembako dan beragam macam bentuk secara patungan oleh para relawan dan berbagai pihak yang peduli bak gayung bersambut dalam spirit “Taan tou-tulun taling”, menjadi bagian ikutan dari roadmap peduli kasih Taman Daun Lembata. Tidak heran kalau sudah sekian banyak sembako berupa beras, kopi, gula, sabun dan yang lainya pun mengalir deras menjangkau mereka yang sangat membutuhkan. Tidak sunkan-sunkan beberapa pekerja kuli tinta pun meleburkan diri dalam aksi Taman Daun Lembata.

Ibarat selembar daun yang menjadi dapur bagi kehidupan pohon dan akarnya, Taman Daun Lembata selalu memposisikan diri sebagai dapur dalam menoreh kasih kehidupan kepada warga yang rentan dan tak berdaya. Bahkan aksi solidaritas yang dilakukan Taman Daun Lembata, jauh sebelum negara menerapkan kebijakan BST.

Rumah kediaman Nenek Peni yang jauh dari kondisi layak untuk dihuni manusia

Pembagian sembako kemudian melahirkan asa peduli baru bagi Komunitas Taman Daun ketika menyambamgi mereka yang sudah di list untuk mendapatkan sembako. Sedikitnya 5 Keluarga miskin di desa Katakeja Kalikasa, Kec. Atadei.

Ketika Komunitas Taman Daun menyambangi rumah nenek Paulina Peni Hei di RT 004 Kalikasa, untuk memberinya sembako sebagaimana 4 KK lain di Kalikasa, awak Taman Daun, John Batafor tak tega menyaksikan rumah rumah nenek Peni yang tidak layak huni bahkan tidak memiliki toilet dan tidur di tempat yang hanya beralaskan tikar.

“Saat tiba di rumah ini, sungguh tidak tega saya melihat kondisi nenek dan rumahnya. Dinding rumah yang sudah reot dan tidur seadanya hanya beralaskan tikar. Bahkan nenek ini tidak punya toilet sehingga kadang terpaksa membuang kotoran dalam rumah,” ungkap John Batafor ketika dikonfirmasi SL.

Kamar tidur Nenek Peni setelah proses bedah rumah selesai

Kondisi rumah dan kehidupan nenek Peni yang adalah pemilik nama Paulina Peni Hei inilah yang kemudian menumbuhkan asa peduli Taman Daun di edsisi berikutnya setelah edisi pembagian sembako. John dan Relawan Taman Daun langsung mengambil keputusan untuk berupaya merenovasi rumah nenek Peni. “Setelah menyaksikan rumah itu, saya langsung diskusi dengan kawan-kawan relawan untuk mengambil langkah berikut “bedah rumah nenek Peni,” tutur John Batafor.

Menurut dia, prinsipnya, “Kita harus bisa mengangkat derajat hidup seseorang layaknya manusia yang layak pada umumnya. Memuliakan manusia sebagai manusia yang sesungguhnya. Jangan mati seperti seonggok bangkai, apalagi nenek ini membuang kotoran dalam rumah karena tidak punya toilet,” kisah John.

Keputusan Taman Daun tidak menunggu waktu yang lama sebagaimana mekanisme normal dalam pengusulan sebuah proyek bantuan yang kadang jauh dari panggang api yang diusulkan berbanding terbalik dengan penerima manfaat.

Taman Daun kemudian langsung mengkonsolidasi berbagai kebutuhan bedah rumah, baik fisik rumah maupun kelengkapan di dalamnya. Dan itu dikumpulkan secara patungan ataupun tanggung renteng oleh relawan Taman Daun. Spirit Tulun-Taling dalam tatanan budaya Lamaholot menjadi pembingkai kasih Taman Daun.

“Kami semua relawan Taman Daun dengan sadar dan rela menanggung semua kebutuhan bedah rumah nenek Peni. Ada yang tanggung balok, usuk, semen, pasir dan terbanyak mengumpulkan uang untuk beli seng, dan berbagai perabot dalam rumah mulai dari kamar, ruang tamu, dapur dan toilet. Sementara pekerjaan fisik rumah dikerjakan secara gotong royong oleh relawan Taman Daun,” beber John.

Alhasil, selama 4 hari dari 30 hingga 3 Juli 2020, rumah nenek Peni yang tidak layak huni boleh berada sejajar dengan warga yang lainnya. Tidurnya pun menjadi nyaman. “Tulun-taling tidak sekedar wacana pemanis bibir tetapi mesti teraplikasi secara tulus apalagi kepada mereka yang sangat membutuhkan,” harap Taman Daun. **Kor. Sakeng.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *