Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

Video Itu Menyasar Pentolan KBRF, Theo Wungubelen Beberkan Fakta Sebenarnya!

Dua sosok di dalam rekaman video yang beredar luas (Captured by SL)

SATULAMAHOLOT- Ditengah gencarnya tekanan yang dilakukan oleh KBRF yang menuntut aparat penegak hukum untuk membongkar berbagai kasus korupsi di Flores Timur, beredar video yang sengaja direkam dengan pertanyaan yang diarahkan oleh sang perekam. Itu nampak dari beberapa pertanyaan berkesan framming yang terdengar dari video itu, sebagaimana diperoleh media ini dari media sosial. Belum lagi, tidak berapa lama setelah beredarnya video itu, ada media yang mewartakan artikel dengan judul yang seksi: Menguak Dugaan Korupsi, etc..

Rupanya video dan pemberitaan itu membidik satu sasaran tembak yang saat ini sedang gencar-gencarnya memperjuangkan pengungkapan berbagai kasus korupsi mega skandal di Kabupaten Flores Timur itu. Hal ini terungkap dari klarifikasi yang diberikan oleh salah seorang mantan Anggota DPRD Flotim, periode 2009-2014.

Theodorus Wungubelen, kepada media ini mengatakan dari deskripsi lokasi rumah, jabatan dan apa yang sudah terjadi pada 6 tahun silam itu mengonfirmasi bahwa tudingan itu mengarah kepada dirinya. Itu sebabnya ia merasa perlu memberikan perimbangan informasi agar sial persepsi publik tidak menelan mentah-mentah apa yang disampailan dalam video maupun ditulis artikel itu: https://nusantara7.co/menguak-dugaan-korupsi-bantuan-ternak-babi-di-sarotari-tengah/2/

Ia pun berkisah bahwa pada 2014, pihaknya masih duduk sebagai anggota dewan ketika Dinas Pertanian memrogramkan bantuan kepada kelompok peternak. Ia pun meminta almarhum puternya untuk mencarikan orang hingga 10 orang guna pembentukan kelompok dimaksud. 2 diantaranya adalah EB dan DF yang disebutkan dalam pemberitaan sebelumnya. Saat pemilihan ketua kelompok tersebut, karena kesibukan anggota lain sehingga puternya Wungubelen yang didaulat menjadi koordinator kelompok itu.

“Mengapa penandatanganan kontrak antara Dinas Pertanian dengan kelompok peternak itu dilakukan di kediaman saya? Pertama karena dokumen dari dinas itu ditujukan ke alamat rumah kami. Kedua, almarhum anak saya adalah ketua kelompok peternak ini,” ungkap Rut.

Bantuan itu baru turun diakhir tahun 2014, saat dimana Wungubelen pun sudah berhenti dari jabatannya di DPRD Flores Timur. Jumlah bantuan yang diterima ada 20 ekor anak babi. Ia dan anaknya pun sepakat, lahan milik mereka di Kelurahan Weri diserahkan kepada kelompok itu untuk digunakan sebagai lebagai lokasi usaha ternak. Nah, pada saat itu, EB nyaris tak pernah datang ke lokasi peternakan itu. Sebagian besar anggota pun sepertinya enggan datang ke lokasi mengingat biaya operasional peternakan yang cukup tinggi. Sementara DH terus bekerja hingga keluarga Theo pun terpanggil untuk membiayai uang sekolah salah satu anaknya.

“Sebagai orang tua saya tidak mungkin lepas tangan, bahkan seingat saya di  pertengahan 2016 sempat ada wabah yang melanda ternak babi di  Larantuka, sehingga mengakibatkan 7 ekor babi kelompok Pioner yang berumur sekitar 5 bulan mati,” ungkap Theo.

Kejadian ini, menurut Rut, membuat almarhum anaknya putus asa karena kehabisan modal. Ia kemudian mengajukan pinjaman ke BRI unit Larantuka sebesar Rp200 juta dan Rp75 juta ia serahkan kepada almarhum anak untuk membantu membiayai operasional ternak babi itu.

“Setahun kemudian, oleh karena almarhum anak saya mendapat panggilan kerja di Kupang maka saya dan 3 anggota kelompok yang masih bertahan, berusaha untuk menyelamatkan usaha tersebut namun akhirnya gagal, dan almarhum anak saya meminta untuk menjual seluruh sisa babi di kandang tersebut yang berjumlah 9 ekor.”

Theo juga mempertanyakan pandangan sejumlah pihak, yang menyatakan bahwa peristiwa ini adalah kasus korupsi.

“Bahwa belanja ternak tersebut dilaksanakan langsung oleh dinas, lalu unsur korupsinya di mana? Siapa yang korupsi? Kalau ada unsur korupsi dari anggaran tersebut  itu urusan dinas,” ungkap Theo.

Theo menyayangkan pemberitaan media yang tidak berimbang dan cenderung menebarkan kabar yang tidak diverifikasi kebenarannya. Ia menegaskan, oknum yang menjadi narasumber didalam pemberitaan tersebut, melalui permintaan orang tuanya, pernah dia bantu menjadikannya tenaga kontrak di salah satu OPD. Tetapi beberapa tahun kemudian diberhentikan, diduga karena perilaku malas masuk kerja.

“Yang menjadi lucu adalah isu ini dimainkan di media, mulai dari audio visual yang tampaknya sudah dipersiapkan dengan baik, lalu dinaikkan di media online, tepat pada saat saya bersama KRBF sedang getol mengkritisi  berbagai kebijakan pemerintah.  Kendati demikian saya terima ini sebagai resiko dan hal yang lumrah dalam perjuangan,” ungkap Theo Wungubelen. (Marlo KR)

Notes: Artikel ini sebelumnya berjudul ‘Video Kota Sauh….” diperbaiki dengan judul yang tayang saat ini. Terimakasih untuk koreksinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *