Tuesday, December 7SATULAMAHOLOT.COM

Begini Pengakuan Siswa Peserta Magang ke Jepang yang Gagal Berangkat

Ratna, kedua dari kiri saat hendak berangkat ke Denpasar pada 2018 silam. Rombongan dilepaskan oleh Wakil Bupati Flotim Agus Payong Boli (Foto: Ratna)

Polemik seputar kerjasama antara Pemkab Flores Timur dan Lembaga Pelatihan Kerja Dharma Bali terus bergulir. Ini pengakuan salah seorang peserta yang kini memutuskan kembali ke kampung halaman dengan kecewa.

ADONARA-SATULAMAHOLOT.COM | Namanya Ratna Binnuri L.S. Jamil, lulusan SMAN Kelubagolit pada 2018. Mimpinya untuk dapat melanjutkan kuliahnya di luar negeri sebagaimana yang dijanjikan, kini harus dikuburnya dalam-dalam. Perjalanannya pada akhir 2018 silam menuju ke Bali untuk selanjutnya ke Jepang, terhenti di Bali.

Kepada media ini yang menghubunginya Minggu, 16 Agustus 2020 ia mengungkapkan bahwa dirinya dan sejumlah rekan-rekannya sebanyak 50 orang pada gelombang pertama berangkat ke Bali untuk selanjutnya bersiap menuju ke Taiwan. Di Taiwan, rencananya mereka akan melanjutkan pendidikan sambil bekerja atau magang pada perusahaan setempat. Sayangnya visa Taiwan yang diurus tak kunjung diterbitkan oleh pemerintah Taiwan sehingga rencana pun batal.

Dirinya dan teman-temannya kemudian mencoba peruntungan untuk melanjutkan pendidikan sambil bekerja di Jepang. Sayangnya, saat tes, hanya satu orang yang lolos tes untuk berangkat ke Jepang dan dirinya bersama rekan-rekannya harus tinggal di Bali.

Karena gagal ke Taiwan, akhirnya pihak LPK Dharma mencoba untuk mencarikan mereka peluang bekerja di Turki. Di sana konon mereka akan bekerja di hotel sebagai staf housekeeping. Sayangnya rencana ini pun batal lantaran merebaknya Covid 19.

Ratna mengatakan, selama menunggu di Bali, mereka diberikan kesempatan kuliah di STIKOM yang konon masih berada di bawah satu payung dengan LPK Dharma. Tepatnya sejak Desember 2019, sebelum merebaknya Covid 19. Namun menurutnya, kuliahnya juga tidak jelas lantaran selama beberapa kali pertemuan itu, pihaknya tidak pernah sekalipun menyentuh peralatan seperti komputer.

“Ada pengalaman teman yang beda jurusan dengan kami. Dia karena hp-nya hilang, maka dia tidak pernah kerja tugas, kumpulkan tugas. Tapi saat nilai keluar, dia punya nilai justru lebih tinggi dari kami yang selalu kerjakan dan kumpulkan tugas.”

Saat ini, Ratna sudah kembali ke kampungnya di Weranggere bersama kedua orang tuanya. Saat ini, masih ada belasan calon perserta magang dari gelombang pertama yang masih tinggal dan menunggu kepastian di Bali. Sebagian lainnya sudah berangkat ke Jepang dan Taiwan.

Ada hal yang masih menjadi tanda tanya dalam dirinya adalah, ada sejumlah dari mereka yang masuk dalam rombongan tetapi saat pengurusan visa, nama mereka tidak diikutsertakan. Saat ditanyakan ke pihak LPK Dharma, petugasnya justru bertanya balik karena nama mereka tidak diajukan untuk diurus visanya.

“Waktu itu ada pertemuan tapi pihak LPK jawabannya tidak jelas,” ungkap Ratna.

Pembiayaan dan biaya hidup selama di Bali

Saat direkrut untuk magang ke Taiwan, Ratna dan kawan-kawannya diarahkan untuk membuka pinjaman di BRI atas nama orang tua mereka. Ratna menggunakan nama ibunya dan pihaknya sama sekali tidak menerima uang itu dari bank, karena langsung diserahkan bersama buku tabungan ke pihak LPK Dharma. Total pinjaman di BRI sebesar Rp21.000.000.

Saat di Bali, menurutnya mungkin uang itu yang digunakan untuk biaya hidup mereka di Bali, yang awalnya diberikan untuk uang makan sebesar Rp210.000 per minggu untuk tiga kali makan sehari. Selang tiga bulan kemudian, mereka diberikan Rp10.000 untuk sekali makan dengan hitungan dua kali makan per hari, total Rp140.000 per minggu.

Nah, ketika hendak melakukan pengurusan visa kali kedua – setelah kali pertama tidak berhasil, sekira satu tahun berada di Bali, para peserta kemudian ditawarkan untuk mengajukan pinjaman di BPR Fajar di Bali. Ratna sendiri mengakui, dirinya mengajukan pinjaman sebesar Rp25.000.000.

“Itu untuk ke Taiwan, dan uangnya sudah cair. Tapi setelah visanya tidak keluar, uangnya diserahkan ke LPK Dharma,” ungkap Ratna.

Ratna pada Februari 2020 saat dinyatakan lulus untuk berangkat ke Turki, mereka kembali mengajukan pinjaman ke BPR Fajar sebesar Rp25.000.000 lagi. “Dua kali pinjaman di Bank Fajar itu menggunakan nama orang tua. Kita tidak tahu, apakah pinjaman pertama di Bank Fajar itu sudah lunas atau belum sehingga bisa ajukan pinjaman kedua,” ungkap Ratna.

Ratna sendiri mengatakan, bahwa total pinjaman ke pihak bank adalah Rp71.000.000, dengan rincian di BRI sebesar Rp21.000.000, dan di BPR Fajar dua kali pinjaman @Rp25.000.000.

Pinjaman di BRI, pembayaran cicilannya dilakukan oleh pihak LPK Dharma dan bulan September 2020 ini akan lunas. Sementara yang di BPR Fajar, Ratna menduga, pihak LPK Dharma juga yang membayar cicilannya. Tidak diketahui, apakah nilai uang sebesar ini tetap menjadi kewajiban Ratna dan orang tuanya untuk kelak membayar ke pihak LPK Dharma atau dianggap sebagai tanggungjawab LPK Dharma.

Dari kisah Ratna, ada hal yang tidak lazim dari prinsip perbankan dimana pinjaman di BPR Fajar dibuka atas nama orang tua anak-anak itu, sekalipun orang tua mereka ada di kampung. Juga, dua kali pinjaman di bank tersebut, dikucurkan dalam tenggat waktu yang berdekatan, dimana pinjaman pertama sebesar Rp25.000.000 tentu saja belum lunas dicicil, namun sudah cair lagi pinjaman kedua dengan nilai yang sama.

“Kami bingung, utang sebanyak itu mau dibayarkan dengan apa. Sementara dua tahun waktu terbuang karena menunggu dalam ketidakpastian. Itu sebabnya kami sangat mengharapkan Pemkab Flotim dapat membantu menutupi kewajiban yang terjadi karena gagalnya keberangkatan kami ke Taiwan ini,” ungkap orang tua Ratna, Jamil Demon.

Kini Ratna harus mengubur dalam-dalam mimpinya untuk dapat melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Ia sedang mengumpulkan semangatnya untuk melanjutkan kuliah di Indonesia.

“Dia ingin melanjutkan kuliah untuk jadi wartawan,” ungkap sang ayah penuh harap. (Marlo KR)

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *