Tuesday, December 7SATULAMAHOLOT.COM

Ironi Ukur Gutun dan Dukacita Massal Mengantarkan Dhevall

Oleh: Ferdinandus DA Lamak, *Wartawan Ekonomi Bisnis, Tinggal di Jakarta

Mendiang Dhevall Leonardo (Foto: Youtube Mr Dhevall Leonardo)

SATULAMAHOLOT.COM | 7 April 2020, Corona Virus Disease 2019 atau Covid-19 baru sebulan mulai mewabah di Indonesia. Aktivitas di keramaian mulai menjadi keramat. Orang ketakutan untuk keluar rumah. Masker masih jarang, belum lagi rapid test apalagi swab test. Indonesia mulai diliput ketakutan yang mencekam lantaran di China, Eropa dan Amerika pun penyebarannya semakin menjadi-jadi.

Malam sebelumnya, saya sempat kontak-kotakan dengan seorang sohib lama yang menetap di Amsterdam dan ia membicarakan Ukur Gutun, lantaran melihat lagu itu di status whatsapp saya, beberapa hari sebelumnya. Saya pun jadi teringat dengan kelompok itu yang setahu saya menjadi anak-anak asuhnya Abang Freddy Wahon.

Setelah mendapat nomor kontak beberapa personil Hip Hop Lembata Foundation (HLF), saya lantas mencoba menghubungi nomor-nomor itu. Beberapa tidak merespon, hanya dua orang yang merespon dan akhirnya saya tersambung dengan salah satu vokalisnya, demikian ia memperkenalkan dirinya. “Dhevall Leonardo.”

Oh iya, saya langsung teringat. Ini vokalis dengan porsi terbanyak ketika tampil bersama rekan-rekannya di HLF. Kontak pertama pun sempat terhenti karena ia sedang dalam perjalanan menuju studio di Beluwa. setelah tiba di Beluwa, obrolan pun kami lanjutkan dan dia berceritera bahwa dirinya baru bergabung belakangan di HLF. Ia menyebut nama salah satu pentolan, Irsyan Young Dad dan beberapa yang lain.

Sejak saat itu, setiap adalah lagu baru yang dia buat dan nyanyikan, selalu dikirimkan japri ke nomor whatsapp saya. Bahkan beberapa yang belum sempat diupload ke youtube, sudah dikirimkan ke saya dan saya posting di media sosial, namun sempat dikomplain oleh seorang rekan Dhevall di HLF. Saya turunkan video itu sambil meminta maaf. Ya, saya telah lancang karena adik Dhevall punya kanal sendiri dan ia sedang membesarkan kanal itu dengan konten-konten karyanya.

Senin, 31 Agustus 2020, sekira pukul 12.00 wib, saya dalam perjalanan dari Pulogebang, kediaman saya di Jakarta Timur menuju Dharmawangsa Square untuk meeting persiapan sebuah kanal TV Digital khusus segmen ekonomi bisnis. Mata saya tertuju pada postingan salah satu teman di facebook yang saya kenal baik, seorang staf di RSUD Lewoleba. Capture video klip Ukur Gutun dengan lingkaran pada sosok Bone Leonardo Olang yang lebih dikenal dengan Dhevall Leonardo ini.

Kaget dan tidak percaya dengan kabar ini. Memang, dua pekan terakhir ini dia tidak lagi mengurimkan whatsapp ke nomor saya. Pikir saya, mungkin dia sibuk. Saya pun menanyakan lagi di kolom komentar postingan itu. Tak lupa, saya postingkan pertanyaan ke Abang Freddy Wahon, ada apakah dengan Dhevall Leonardo? Sebelum tiba di lokasi meeting, Abang Fred sudah menjawab dan mengatakan bahwa Dhevall memang sakit dan dirawat di RSUD tetapi saat ini sudah pulang ke rumah dan akan dilakukan perawatan dengan cara alternatif. Lega rasanya….

Pukul 16.00 kurang, begitu meeting usai, saya di-tag postingan Adik Andri Atagoran, wartawan TVRI Lembata. Ternyata benar kabar duka itu. Sepanjang perjalanan saya chatting dengan pemosting diawal tadi tentang meninggalnya Dhevall. Akh, panjang kisahnya ternyata. Tetapi yang pasti bahwa anak muda kebanggan kita orang Lembata ini telah pergi meninggalkan rekan-rekannya di HLF dan kita semua yang mencintai dia.

Hari Ini dan Ironi Kita

Dari Jakarta, siang ini saya menyaksikan betapa dicintainya mediang oleh masyarakat di Lembata, khususnya di Kota Lewoleba. AksiNews.id, portal berita milik Abang Freddy Wahon menulis, ribuan orang mengantar kepergian sang biduan ini. Kota Lewoleba dan jalanannya dikuasai oleh para pengantar jenasah ke tempat peristirahatan terakhir.

Laman-laman media sosial sedikit lebih dulu, sejak kemarin siang hingga malam ini pun banjir dengan berbagai ekspresi ketidakpercayaan, dukacita, dan berbagai postingan dan komentar lainnya. Jika ada digital stats yang menakar, barangkali kata kunci: Dhevall Leonardo hari ini menjadi trending keyword di media sosial semacam facebook dan instagram.

Saya pun berkata pada diri saya sendiri. “Ama Dhevall, ternyata begitu banyak orang yang mencintai kalian. Begitu banyak orang yang memuja kalian, termasuk engkau. Tidak benar jika karya-karya kalian tidak disukai dan diremehkan oleh orang Lembata, khususnya Lewoleba. Lihatlah, begitu banyak wajah duka mengantarkan kepergianmu. Tak terhitung tetes air mata yang membasahi jejak tapak kakimu menuju rumah keabadianmu.”

Saya yakin, pasti ia mendengarkan kalimat saya di atas. Dia pun pasti tahu, mengapa kalimat diatas saya lontarkan.

“Lagu-lagu kami justru lebih diterima di luar Lembata,” kata Dhevall dalam obrolan kami April silam. Ia mengakui, banyak pihak yang nyiyir terhadap karya mereka, sekalipun Ukur Gutun telah mendunia. Ironis memang.

Bahkan jika kita simak dengan baik, penggal demi penggal lirik lagu Ukur Gutun, bagian-bagian lagu itu menyiratkan hal diatas.

Namun, itu dahulu. Beberapa bulan lalu. Tidak hari ini.

Hari ini semua merasakan kehilangan yang luar biasa. Tidak ada lagi wajah si ‘bantet’ yang lincah dengan lengkingan suara tinggi itu menghiasi layar ponsel kita bersama rekan-rekannya di HLF dalam karya-karya baru mereka.

Dalam whatsapp terakhirnya kepada saya pada 17 Agustus silam, ia membagikan lagu baru HLF yang baru diupload ke youtube. “Dong Tolak Sa.” Bagi saya, ini adalah sebuah judul reflektif akan pengalaman masa lalu Dhevall dan rekan-rekannya di HLF. Tidak lagi hari ini.

Kepergian Dhevall Leonardo untuk selama-lamanya, kemarin dan hari ini ia dimakamkan, sekaligus menunjukkan bukti yang sahih bahwa Dhevall begitu dicintai semua orang Lembata. Pun, HLF rumah besarnya musisi-musisi sejawatnya Dhevall pun demikian dan bahkan menjadi kebanggan semua orang Lembata.

So, jangan nyiyir lagi. Karena prestasi Dhevall dan HLF sudah terbukti dan diakui, bukan hanya oleh kita tetapi juga publik di seantero dunia.

Ama Dhevall, beristirahatlah dengan damai di sana…..

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *