Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

“Jangan Sampai Kita Datangnya Sehat, Pulangnya Sakit”

48 orang di kebun tempat mereka mengungsi, mendapatkan bantuan dari Melchias Markus Mekeng (Foto: YW)

LEWOLEBA – Tempat itu letaknya tidak jauh dari pertigaan Lewoleba – Ile Ape – Hadakewa. Jika di Jakarta ada bundaran HI, maka di Lewoleba orang sering menyebut lokasi ini dengan pertigaan HI. Persisnya, sebelum Muruona jika Anda datang dari arah Lewoleba menuju Waipukang, Ile Ape. Sebuah lokasi pembuatan batu bata merah, yang diatasnya berdiri bangunan kecil yang dibuat untuk mereka yang mengerjakan batu bata.

Sejak 29 November kemarin, tempat ini mendadak ramai setelah secara bergelombang para pengungsi dari Desa Kolontobo datang kesini. Terkonfirmasi, ada 48 orang dengan beragam usia, mengungsi di tempat ini.

Markus Arakian, warga Desa Kolontobo yang menjadi koordinator di lokasi ini mengatakan, awalnya hanya dia beserta isteri dan anak-anaknya yang datang ketempat ini pada 29 November silam. Kemudian menyusul 10 KK lainnya yang datang bergabung. Mereka kemudian menempatkan anak-anak kecil dan orang-orang tua yang lanjut usia didalam bangunan kecil itu. Selebihnya tidur di bawah tenda yang sobek, bekas penutup batu bata seusai dicetak.

Awal-awal di tempat ini, kehidupan mereka sangat susah. Mereka harus patungan membeli 1-2 kg beras untuk dimakan bersama. Jangan tanya ikan, karena mereka hanya mengandalkan sayuran yang mereka petik di sekeliling mereka tinggal.

Markus lalu mengutarakan alasan mengapa mereka tidak bergabung dengan para pengungsi lain di Posko Utama yang diurus oleh Pemkab Lembata. Pasalnya, di Posko Utama mereka tidak akan mendapatkan kesulitan seperti yang dialami di lokasi itu.

“Kita dengan adanya Covid 19 ini, ada protokol kesehatan yang mensyaratkan kita untuk menghindari kerumunan-kerumunan massa. Kalau kita ke Posko Utama, disana ada banyak sekali orang dari berbagai tempat yang belum tentu menjalankan protokol kesehatan dengan baik. Jangan sampai kita datang sehat, pulangnya sakit,” ungkap Markus.

Markus memang tidak mengetahui secara langsung bagaimana pelaksanaan protokol kesehatan di Posko Utama. Hanya informasi yang dia dapatkan di media sosial, maupun beberapa keluarga yang bekerja disana bahwa protokol kesehatan belum dijalankan dengan baik dan menurut dia itu risiko yang harus diperhatikan serius oleh pihak terkait.

“Kalau disini, kami hanya ber-48 ini saja. Jadi kami merasa lebih aman, meskipun akhirnya kami juga kurang mendapatkan perhatian dalam menerima bantuan dari pemerintah. Beberapa hari lalu ada romo-romo yang datang kasih kami bantuan, terus kemarin perkumpulan mahasiswa dari Jogja terus datang lagi dari Pak Yongki yang kasih kami bantuan dari Pak Mekeng. Ini yang kami syukuri,” ungkapnya.

Markus dan keluarga serta sejumlah orang sekampungnya yang tinggal di lokasi itu, masih berharap semoga pemerintah dapat memerhatikan mereka, sekalipun mereka tidak mengungsi di Posko Utama.

Apa yang disampaikan Markus tentang protokol kesehatan dan ancaman Covid-19 itu pun penting untuk menjadi catatan pemerintah. Apalagi Lembata masih berada di dalam zona merah. (Marlo KR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *