Wednesday, October 20SATULAMAHOLOT.COM

TPK dan Pedonor Plasma Darah di RSUD Kabupaten

Perawat sedang memegang kantong plasma darah untuk melakukan TPK (Foto: tribunnews)

Tentang Terapi Plasma Konvalesen ini pernah saya tulis dalam sebuah artikel khusus di Seword.com, setahun silam. Kala itu, salah satu rekan penulis disana adalah seorang dokter yang menjadi motor penggerak dilakukannya TPK untuk penanganan pasien-pasien Covid-19, ketika itu. Namanya, Dr dr Theresia Monica Rahardjo SpAn KIC MSi MM MARS. Beliau yang banyak memberikan kami pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu TPK, jauh sebelum publik mengenal dan sekian banyak pasien Covid 19 menempuh cara ini untuk sembuh.

Hari ini masyarakat di Kabupaten Lembata dikejutkan oleh berita yang dilansir sejumlah media, mengenai meninggalnya salah seorang lurah di Lewoleba usai melahirkan. Setelah melahirkan ia menjalani isolasi di RSUD Lewoleba, karena terpapar Covid. Seminggu setelah bayinya meninggal dunia pada 1/7/2021, sang ibu pun menyusul. Para kerabat konon terus berusaha untuk mendapatkan pedonor plasma darah untuk golongan darah B untuk dapat menyelamatkan kondisi ibu lurah ini, namun tidak berhasil.

Saya kurang tahu, sudah berapa banyak TPK dilakukan di RSUD baik di Lembata maupun di Flores Timur dan bagaimana hasilnya. Namun, dengan semakin tinggi populasi penyebaran Covid-19 di dua kabupaten ini, bahkan hingga ke pelosok desa, otoritas kesehatan setempat perlu mempertimbangkan untuk mulai menggiatkan TPK bagi para penderita Covid-19. Seperti yang dikabarkan perihal ibu lurah diatas, dimana para kerabat berusaha mencari pedonor plasma darah untuk golongan darah B diatas, kebutuhan plasma darah ini sudah pasti untuk melakukan TPK bagi almahrum.

Ini merupakan salah satu langkah, dari sekian banyak hal yang harus diurus oleh otoritas kesehatan setempat terkait Covid-19 ini. Baik mulai dari pemberian vaksin dengan target semakin banyak orang yang divaksin hingga perawatan pasien terpapar yang kian hari kian bertambah banyak. Belum lagi, para tenaga kesehatan harus berada di bawah bayang-bayang minimnya fasiltas proteksi diri seperti APD hingga melonjaknya jumlah tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19.

Nah, jika TPK ini dilakukan pada setahun silam, tentu tidak visibel karena jumlah penderita Covid yang sembuh atau penyintas Covid-19 belumlah banyak. Kini, dengan semakin banyak penderita Covid-19 yang sembuh, maka peluang RSUD untuk mulai melakukan TPK bagi para pasien Covid-19 pun semakin terbuka lebar. Di Jakarta pada awal-awal TPK ini diperkenalkan, stok plasma darah tersedia di PMI Pusat sehingga pasien tinggal meminta surat dari RS tempat pasien dirawat yang ditujukan ke PMI untuk dapat menyediakan plasma darah. Namun sekarang, stok plasma darah di PMI lebih sering kosong sehingga keluarga pasien sendirilah yang harus mencari pedonor sesuai golongan darah dan rhesus.

Pertanyaannya, siapa saja yang boleh menjadi pedonor plasma darah? Ya mereka yang dinyatakan sembuh dari Covid-19 dengan batasan kurun waktu tertentu, jangan terlampau lama dari waktu sembuhnya ke waktu donor hendak dilakukan. Angka kesembuhan pasien dari infografis yang disediakan pemkab itu dapat menjadi penunjuk jalan, siapa saja yang dapat didekati untuk menjadi pedonor plasma darah.

Dalam beberapa TPK terhadap penderita Covid-19 sejak setahun silam yang saya pun terlibat dalam mencarikan plasma darah bagi pasien, semua pasien itu akhirnya sembuh.

Nah, berikut ini saya sertakan link penatalaksanaan atau protap pemberian TPK yang mungkin bermanfaat untuk para tenaga kesehatan yang ada di RS atau Puskesmas. Silahkan didownload ya!

Salam sehat selalu.

Jakarta, 6 Juli 2021

Ferdinand Lamak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *